Selasa, 07 Agustus 2012

rumah Gadang


Foto Rumah Gadang: Rumah Adat di Padang - Pada postingan kali ini saya akan berbagi informasi seputar Rumah Gadang atau rumah adat di padang, sumatera barat. Selain berbagi informasi juga saya sertakan foto rumah gadang yang barangkali bermanfaat untuk kerpeluan tugas di sekolah.

Rumah Gadang

Apa itu Rumah Gadang


Rumah Gadang atau Rumah Godang adalah nama untuk rumah adat Minangkabau yang merupakan rumah tradisional dan banyak di jumpai di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Rumah ini juga disebut dengan nama lain oleh masyarakat setempat dengan nama Rumah Bagonjong atau ada juga yang menyebut dengan nama Rumah Baanjung.

Rumah dengan model ini juga banyak dijumpai di Negeri Sembilan, Malaysia. Namun demikian tidak semua kawasan di Minangkabau (darek) yang boleh didirikan rumah adat ini, hanya pada kawasan yang sudah memiliki status sebagai nagari saja Rumah Gadang ini boleh didirikan. Begitu juga pada kawasan yang disebut dengan rantau, rumah adat ini juga dahulunya tidak ada yang didirikan oleh para perantau Minangkabau.

Fungsi Rumah Gadang

Rumah Gadang sebagai tempat tinggal bersama, mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri. Jumlah kamar bergantung kepada jumlah perempuan yang tinggal di dalamnya. Setiap perempuan dalam kaum tersebut yang telah bersuami memperoleh sebuah kamar. Sementara perempuan tua dan anak-anak memperoleh tempat di kamar dekat dapur. Gadis remaja memperoleh kamar bersama di ujung yang lain.

Seluruh bagian dalam Rumah Gadang merupakan ruangan lepas kecuali kamar tidur. Bagian dalam terbagi atas lanjar dan ruang yang ditandai oleh tiang. Tiang itu berbanjar dari muka ke belakang dan dari kiri ke kanan. Tiang yang berbanjar dari depan ke belakang menandai lanjar, sedangkan tiang dari kiri ke kanan menandai ruang. Jumlah lanjar bergantung pada besar rumah, bisa dua, tiga dan empat. Ruangnya terdiri dari jumlah yang ganjil antara tiga dan sebelas.

Rumah Gadang biasanya dibangun diatas sebidang tanah milik keluarga induk dalam suku/kaum tersebut secara turun temurun dan hanya dimiliki dan diwarisi dari dan kepada perempuan pada kaum tersebut. Dihalaman depan Rumah Gadang biasanya selalu terdapat dua buah bangunan Rangkiang, digunakan untuk menyimpan padi. Rumah Gadang pada sayap bangunan sebelah kanan dan kirinya terdapat ruang anjung (Bahasa Minang: anjuang) sebagai tempat pengantin bersanding atau tempat penobatan kepala adat, karena itu rumah Gadang dinamakan pula sebagai rumah Baanjuang. Anjung pada kelarasan Bodi-Chaniago tidak memakai tongkat penyangga di bawahnya, sedangkan pada kelarasan Koto-Piliang memakai tongkat penyangga.

Hal ini sesuai filosofi yang dianut kedua golongan ini yang berbeda, salah satu golongan menganut prinsip pemerintahan yang hirarki menggunakan anjung yang memakai tongkat penyangga, pada golongan lainnya anjuang seolah-olah mengapung di udara. Tidak jauh dari komplek Rumah Gadang tersebut biasanya juga dibangun sebuah surau kaum yang berfungsi sebagai tempat ibadah, tempat pendidikan dan juga sekaligus menjadi tempat tinggal lelaki dewasa kaum tersebut yang belum menikah.

Informasi lainnya tentang Rumah Gadang

Rumah gadang adalah Rumah Adat Sumatera Barat. Kata “gadang” dalam bahasa Minang artinya besar. Maka tak heran, jika bentuknya berjenis rumah panggung dan persegi panjang. Lantainya terbuat dari kayu. Atapnya menonjol dan mencuat ke atas. Biasanya, dicat dengan warna coklat tua.

Rumah Gadang di Padang

Ada keistimewaan lain dari rumah gadang. Meski berbentuk rumah panggung, ia tidak memakai paku. Tapi, pasak kayu yang semakin kuat terikat jika terjadi gempa. Dan ada hiasan bunga mekar diukir pada kayu untuk ornamen rumah.

Rumah Gadang dan Lumbung Padi

Rumah gadang juga populer memiliki dua lumbung padi: si Bayo dan si Tanjau laut. Bayo artinya persediaan padi untuk keluarga dari rantau. Sedangkan Tanjau Laut maksudnya persediaan padi untuk tuan rumah.

Dua lumbung padi tersebut menggambarkan karakter masyarakat Sumatara Barat atau Minangkabau sebagai masyarakat yang mengembara dan berdagang. Makanya kerap ditemukan di setiap daerah selalu saja ada rumah makan padang atau minang. Sebagai ciri utamanya selalu ada gambar rumah gadang.

Rumah Gadang dan Kekuasaan Isteri

Berdasarkan adat orang Minang, setiap rumah gadang didiami oleh keluarga besar pihak isteri yang terdiri atas nenek, anak-anak perempuan, dan lain-lain. Makanya, sistem kekerabatan suku Minangkabau adalah matrilineal. Artinya, mengikuti garis keturunan dari ibu.

Karena itu, dalam adat Minangkabau, anak lebih didekatkan pada keluarga ibu ketimbang keluarga ayahnya. Hal ini pulalah yang menyebabkan di dalam adat Minangkabau laki-laki yang dilamar oleh wanita, bukan sebaliknya.

Para ahli antropologi berpendapat bahwa garis keturunan matrilineal ini adalah garis keturunan tertua di dalam suku Minangkabau. Garis keturunan kedua adalah genealogis (garis keturunan ayah) dan garis keturunan yang ketiga adalah teritorial (garis keturuan orang tua).

Tak perlu heran, jika seorang laki-laki dari keturunan Minangkabau selalu menggunakan marga ibunya. Bahkan, jika berbicara tentang kampung halamannya maka yang dimaksud adalah kampung halaman ibunya.

Inilah pengaruh rumah gadang dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Selain itu, rumah gadang juga mengisyaratkan bahwa hak-hak dan pusaka diwariskan oleh ibu kepada kemanakannya, dan saudara laki-laki ibu kepada saudara perempuan.

Meski demikian, banyak dari masyarakat Minangkabau sudah tidak lagi mengikuti alur adat yang diatur oleh rumah gadang. Ini akibat telah berbaurnya masyarakat Minangkabau dengan komunitas masyarakat lainnya. Namun, eksistensi rumah gadang tetap ditandai sebagai rumah suku adat Minangkabau.
Quote:
4 miliar untuk bangun rumah gadang - AntaraNews

Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat mengalokasikan anggaran Rp4 miliar untuk membangun "rumah gadang" (rumah adat Minangkabau) di 10 kecamatan pada tahun 2012.

"Pembangunan rumah gadang itu di masing-masing nagari. Dari anggaran Rp4 miliar, masing-masing nagari akan memperoleh alokasi Rp200 juta," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pasaman Barat Reflin di Simpang Ampek, Sabtu.

Dia menambahkan, anggaran Rp4 miliar itu merupakan tahap awal karena Pasaman Barat memiliki 11 kecamatan dengan 19 nagari.

Pembangunan rumah gadang merupakan suatu langkah pemerintah dalam melestarikan simbol orang Minangkabau. Rumah gadang nantinya bisa digunakan untuk tempat berkumpul dan bermusyawarah antara mamak dan kemenakan (paman dan keponakan) yang ada di nagari tersebut.

Sebagai daerah yang berfalsafahkan Adat Bersendikan Syarak, Syarak Bersendikan Kitabullah, imbuhnya, keberadaan rumah gadang sangat besar artinya bagi suatu nagari.

Pembangunan rumah gadang ini, kata dia, merupakan tindak lanjut dari keinginan Pemkab Pasaman Barat untuk melestarikan simbol kebesaran orang Minangkabau.