Sabtu, 18 Agustus 2012

BATIK

Batik merupakan ikhwal kriya tekstil yang tak asing bagi orang Indonesia, bahkan sering menjadi sebuah simbol akan bangsa Indonesia. Batik dikenal erat kaitannya dengan kebudayaan etnis Jawa di Indonesia bahkan semenjak zaman Raden Wijaya (1294-1309) pada masa kerajaan Majapahit. Namun pada dasarnya berbagai bahan sandang memiliki corak batik juga dari luar pulau Jawa, misalnya di beberapa tempat di Sumatera, seperti Jambi bahkan beberapa tempat di Kalimantan dan Sulawesi. Motif batik digunakan mulai dari hiasan, kain sarung, kopiah, kemeja, bahkan kerudung dan banyak lagi. Namun hal yang sangat menarik dengan batik adalah bahwa ia merupakan konsep yang tidak sederhana bahkan dari sisi etimologinya. Batik dapat merepresentasikan ornamentasi yang unik dan rumit dalam corak dan warna dan bentuk-bentuk geometris yang ditampilkannya. Namun yang terpenting adalah bahwa batik dapat pula merepresentasikan proses dari pembuatan corak dan ornamentasi yang ditunjukkan di dalamnya.
Proses batik atau dalam verbia disebut pula sebagai “mbatik”, merupakan hal yang tidak sesederhana menggambarkan sebuah lukisan, misalnya. Multiperspektif yang terpancar dari ornamentasinya merupakan hasil dari proses dan tahapan-tahapan pseudo-algoritmik yang sangat menarik. Berdasarkan publikasi “Batik: The Impact of Time and Environment” oleh H. Santosa Doellah yang diterbitkan oleh Danar Hadi, terdapat setidaknya tiga tahapan proses dalam ornamentasi batik, yakni:
  1. Klowongan“, yang merupakan proses penggambaran dan pembentukan elemen dasar dari disain batik secara umum.
  2. Isen-isen“, yaitu proses pengisian bagian-bagian dari ornamen dari pola isen yang ditentukan. Terdapat beberapa pola yang biasa digunakan secara tradisional seperti motif cecek, sawut, cecek sawut, sisik melik, dan sebagainya. 
  3. Ornamentasi Harmoni, yaitu penempatan berbagai latar belakang dari desain secara keseluruhan sehingga menunjukkan harmonisasi secara umum. Pola yang digunakan biasanya adalah pola ukel, galar, gringsing, atau beberapa pengaturan yang menunjukkan modifikasi tertentu dari pola isen, misalnya sekar sedhah, rembyang, sekar pacar, dan sebagainya.
Budaya batik berasal dari pemahaman kognitif yang tertuang ke dalam karya estetika visual yang sedikit banyak memberi gambaran implisit tentang bagaimana orang Indonesia memandang dirinya, alamnya, dan lingkungan sosialnya. Pola batik yang diketahui bersifat fraktal merupakan sebuah kenyataan bahwa terdapat perspektif alternatif yang ada di kalangan masyarakat dan peradaban Indonesia yang unik relatif terhadap cara pandang modern yang umum. Keunikan ini merupakan sesuatu yang penting mengingat fraktal merupakan bentuk pemahaman geometri yang mutakhir dan memiliki kesadaran akan kompleksitas sistem dan menanganinya dengan lebih bijaksana.
Batik sebagai sebuah obyek estetika berpola memiliki tata aturan penggambaran pseudo-algoritmik yang dapat diperlakukan sebagai bentuk seni generatif yang memiliki kegunaan:
  •  Memberikan sumbangan dan inspirasi kepada peradaban umat manusia, khususnya dalam bidang perkembangans seni generatif.
  • Mendorong dan memperluas ekslorasi dan apresiasi atas batik sebagai bagian dari seni tradisi nusantara Indonesia.
  • Penelitian tentang aspek fraktalitas pada batik secara umum mendorong penggalian lebih jauh tentang aspek kognitif terkait cara pandang dan kebijaksanaan masyarakat terdahulu kita tentang alam dan masyarakat – mengingat eratnya kaitan antara seni dan sains sebagaimana ditunjukkan dalam sejarah perkembangan dan sejarah sains modern.

Batik Warna Alam, Mahal?

Bagi para pecinta dan kolektor batik, belum puas rasanya bila belum melengkapi koleksi batik dengan batik sutra warna alam. Dimana warna warni kain batik didapat dari bahan alami. Selain memiliki warna khas, kain batik ini juga dinilai lebih aman bagi tubuh pemakainya. Tak heran harga batik ini relatif lebih mahal dari batik biasa.
Batik warna alam punya daya tarik tersendiri bagi para pecintanya. Selain nyaman di pakai, batik warna alam juga aman bagi kesehatan pemakai, karena tidak menggunakan bahan pewarna kimia.  Musim kemarau seperti sekarang ini dinilai sangat menunjang proses produksi karena proses pengeringan matahari lebih sempurna.
Dibanding batik sintetis, pembuatan batik warna alam lebih rumit. Usai dikeringkan, bahan lebih dahulu dibersihkan dan dimasak menggunakan kayu bakar. Setiap satu kilogram bahan dicampur lima liter air membutuhkan waktu masak sekitar 40 menit
Proses pewarnaan bahan alam ini juga tergolong rumit, perlu uji coba berulang kali untuk memperoleh warna kas. Meski demikian, warna warna bahan alami lebih kaya, sehingga perajin batik lebih leluasa berkarya. Pewarna alam untuk batik berasal dari bahan tumbuhan, akar, kulit dan batang kayu. Berbagai jenis tamanan bisa dimanfaatkan, antara lain daun alpokat, daun mangga, kulit mahoni dan akar pohon mengudu. Biasanya warna alam itu lebih disukai oleh konsumen-konsumen yang memang sudah mengenal batik dan batik itu sendiri dari sejak dahulu sudah menggunakan warna alam. Jadi warna alam itu sudah digunakan oleh nenek moyang kita untuk membuat batik
Harga batik warna alam jauh berlipat hingga mencapai tiga kali lipat harga batik sintetis karena prosesnya juga lebih rumit dan  butuh waktu yang lama. harga per potong berkisar antara 300 ribu hingga 3 juta rupiah Tergantung permintaan desain dan bahan kain yang digunakan.